Hubungan
internasional
Berbeda dengan ilmu politik, HI menggunakan berbagai bidang ilmu
seperti ekonomi, sejarah, hukum internasional, filsafat, geografi, kerja
sosial, sosiologi, antropologi, kriminologi, psikologi, studi
gender, dan ilmu budaya/kulturologi.
HI mencakup rentang isu yang luas, termasuk globalisasi, kedaulatan negara, keamanan
internasional, kelestarian lingkungan, proliferasi
nuklir, nasionalisme, pembangunan ekonomi, keuangan global, terorisme, kejahatan terorganisasi, keamanan manusia, intervensionisme
asing, dan hak asasi manusia.Hubungan Internasional (HI; sering
disebut Studi
Internasional (SI), meski keduanya tidak sama)
adalah ilmu yang mempelajari hubungan antarnegara, termasuk peran
sejumlah negara, organisasi
antarpemerintah (IGO), organisasi nonpemerintah internasional (INGO), organisasi
non-pemerintah (NGO), dan perusahaan
multinasional (MNC). HI merupakan sebuah bidang akademik dan kebijakan publik dan dapat bersifat positif atau normatif, karena keduanya berusaha
menganalisis dan merumuskan kebijakan luar negeri negara-negara
tertentu. HI sering dianggap sebagai cabang ilmu politik(khususnya setelah tata nama UNESCO tahun
1988), namun pihak akademisi lebih
suka menganggapnya sebagai bidang studi yang interdisipliner. Aspek-aspek
hubungan internasional telah dipelajari selama ribuan tahun sejak masa Thucydides, namun baru pada awal abad ke-20 HI
menjadi disiplin yang terpisah dan tetap.[1]
Sejarah
Sejarah hubungan internasional dapat ditelusuri hingga ribuan
tahun yang lalu; Barry Buzan dan Richard Little, misalnya, menganggap interaksi
antara beberapa negara-kota kuno di Sumeria,
yang berawal pada tahun 3.500 SM, sebagai sistem internasional paling dewasa
pertama di dunia.[2]
Potret
resmi Raja Władysław IV dengan
pakaian model Perancis, Spanyol, dan Polandia yang merefleksikan
kerumitan politik Persemakmuran
Polandia-Lituania selama Perang Tiga Puluh
Tahun
Sejarah hubungan internasional berdasarkan negara berdaulat dapat ditelusuri
hingga Perdamaian Westfalen (Westphalia)
tahun 1648, sebuah batu loncatan dalam perkembangan sistem negara modern.
Sebelumnya, organisasi otoritas politik Eropa abad pertengahan masih didasarkan
pada ordo keagamaan hierarkis yang tidak jelas. Berlawanan dengan kepercayaan
masyarakat, Westfalen (Westphalia) masih menerapkan sistem kedaulatan berlapis,
khususnya di dalam Kekaisaran Romawi Suci.[3] Selain Perdamaian Westfalen
(Westphalia), Traktat Utrecht tahun
1713 dianggap mencerminkan suatu norma baru bahwa negara berdaulat tidak
memiliki kesamaan internal di dalam wilayah tetapnya dan tidak ada penguasa luar
yang dapat menjadi penguasa mutlak di dalam perbatasan sebuah wilayah
berdaulat.[butuh
rujukan]
Tahun-tahun antara 1500 hingga 1789 menjadi masa
kebangkitan negara-negara berdaulat
yang merdeka, institusionalisasi diplomasi dan angkatan bersenjata. Revolusi Perancis turut menambahkan ide
baru bahwa yang dapat ditetapkan sebagai berdaulat bukanlah pangeran atau
oligarki, tetapi warga negara yang didefinisikan sebagai bangsa. Suatu negara
yang bangsanya berdaulat dapat disebut sebuah negara-bangsa (berbeda dengan monarki
atau negara keagamaan). Istilah republik mulai menjadi sinonimnya. Sebuah
model alternatif negara-bangsa dikembangkan sebagai tanggapan atas konsep
republik Perancis oleh bangsa Jerman dan lainnya, yang bukannya memberikan
kedaulatan kepada warga negara, malah mempertahankan pangeran dan kerajaan,
tetapi menetapkan kenegarabangsaan dalam hal etnolinguistik, sehingga
menetapkan ide yang jarang terwujud bahwa semua orang yang mempertuturkan satu
bahasa dimiliki oleh satu negara saja. Klaim yang sama terhadap kedaulatan
dibuat untuk kedua bentuk negara-bangsa. Perlu diketahui bahwa di Eropa saat
ini, beberapa negara mengikuti kedua definisi negara-bangsa: banyak yang
melanjutkan sistem kerajaan berdaulat, dan sedikit sekali negara yang homogen
etnisnya.
Sistem Eropa yang mengusung kesetaraan kedaulatan negara-negara
dibawa ke Amerika, Afrika, dan Asia melalui kolonialisme dan "standar
peradaban" mereka. Sistem internasional kontemporer akhirnya ditetapkan
melalui dekolonisasi selama Perang Dingin. Tetapi, hal ini malah terlalu
disederhanakan. Meski sistem negara-bangsa dianggap "modern", banyak
negara belum memberlakukan sistem ini dan dianggap "pra-modern".
Lebih jauh lagi, beberapa negara telah bergerak keluar dari
penuntutan kedaulatan penuh, dan dapat dianggap "pascamodern".
Kemampuan kuliah HI kontemporer untuk menjelaskan hubungan antara jenis-jenis
negara ini masih diragukan. "Tingkat analisis" adalah cara memandang
sistem internasional, yang mencakup tingkat individual, kondisi domestik
sebagai satu kesatuan, tingkat internasional berupa persoalan transnasional dan
antarpemerintah, dan tingkat global.
Hal yang secara eksplisit diakui sebagai teori Hubungan
Internasional belum dikembangkan hingga akhir Perang Dunia I. Meski begitu, teori HI sudah
lama bergantung pada karya ilmu sosiallain. Pemakaian huruf kapital
"H" dan "I" dalam Hubungan Internasional bertujuan untuk membedakan
disiplin akademik Hubungan Internasional dari fenomena hubungan internasional.
Banyak orang merujuk The Art of War karya Sun Tzu (abad ke-6 SM), History of the Peloponnesian War karya Thucydides (abad ke-5 SM), Arthashastra karya Chanakya (abad ke-4 SM) sebagai inspirasi
bagi teori realis, dengan penjelasan yang lebih dalam oleh Leviathan karya Hobbes dan The Prince karya Machiavelli.
Demikian pula, liberalisme bergantung pada karya Kant dan Rousseau,
dengan karya Kant yang sering dirujuk sebagai penjelasan pertama mengenai teori
perdamaian demokratis. Meski hak asasi manusia kontemporer dianggap
berbeda daripada tipe hak asasi yang tergambar dalam hukum kodrat, Francisco
de Vitoria, Hugo Grotius dan John Locke memberikan penjelasan langsung
mengenai penetapan universal terhadap hak-hak tertentu atas dasar kemanusiaan
umum. Pada abad ke-20, selain teori kontemporer internasionalisme
liberal, Marxisme telah menjadi dasar hubungan
internasional
Studi HI
Bendera
negara anggota Perserikatan
Bangsa-Bangsa
Awalnya, hubungan internasional sebagai bidang studi yang
terpisah hampir sepenuhnya Britania-sentris. HI baru muncul sebagai
'disiplin' akademik formal pada tahun 1918 melalui pembentukan jabatan dosen
ilmu HI pertama, Woodrow Wilson Chair di Aberystwyth, Universitas Wales
(sekarang Universitas
Aberystwyth[4]) atas sumbangan David Davies, dan menjadi jabatan akademik
pertama dalam bidang HI. Hal ini dengan cepat diikuti oleh pembukaan studi HI
di berbagai universitas Amerika Serikat dan Jenewa, Swiss. Pada awal 1920-an,
departemen Hubungan Internasional London School of
Economics didirikan atas sumbangan pemenang Hadiah Nobel
Perdamaian Philip Noel-Baker, dan merupakan institut
pertama yang memiliki berbagai macam gelar dalam bidang ini. Selain itu,
departemen Sejarah Internasional di LSE terus berfokus pada sejarah HI pada
periode modern
awal, kolonial, dan Perang Dingin.
Universitas pertama yang didirikan khusus studi HI adalah Graduate
Institute of International Studies (sekarang Graduate Institute of International and Development
Studies), yang didirikan tahun 1927 untuk menghasilkan para diplomat
yang berhubungan dengan Liga Bangsa-Bangsa,
yang didirikan di Jenewa beberapa tahun sebelumnya. Graduate Institute of
International Studies memberikan gelar Ph.D. pertama
dalam bidang hubungan internasional. Edmund A. Walsh School of Foreign Service di Universitas
Georgetown adalah fakultas hubungan internasional tertua di
Amerika Serikat; didirikan tahun 1919. Committee on International Relations di Universitas Chicago adalah
institusi pertama yang memberi gelar sarjana dalam bidang ini pada tahun 1928.
perdebatan yang dominan dan telah disebut sebagai
"Perdebatan Besar" Ketiga (Lapid 1989)
Teori
Epistemologi dan teori HI[
Teori HI dapat dibagi menjadi dua kelompok epistemologis: "positivis" dan
"pascapositivis". Teori positivis bertujuan untuk mereplikasi metode
-metode ilmu alam dengan menganalisis dampak kekuatan material. Teori tersebut
biasanya berfokus pada fitur hubungan internasional seperti interaksi negara,
ukuran pasukan militer, keseimbangan kekuasaan, dll. Epistemologi
pascapositivis menolak ide bahwa dunia sosial dapat dipelajari dengan cara yang
objektif dan bebas nilai. Teori ini menolak ide-ide sentral berupa
neo-realisme/liberalisme, seperti teori pilihan
rasional, atas dasar bahwa metode ilmiah tidak dapat diaplikasikan
ke dunia sosial dan bahwa 'ilmu pengetahuan' HI mustahil ada.
Perbedaan utama antara kedua posisi tersebut adalah bahwa meski
teori positivis, seperti neo-realisme, memberikan penjelasan yang bersifat
sebab (seperti mengapa dan bagaimana kekuasaan dijalankan), teori
pascapositivis berfokus pada pertanyaan yang konstitutif, misalnya apa yang
dimaksud dengan 'kekuasaan'; hal apa saja yang menciptakannya, bagaimana
kekuasaan dialami dan bagaimana kekuasaan direproduksi. Teori pascapositivis
secara eksplisit sering mempromosikan pendekatan normatif terhadap HI dengan
mempertimbangkan etika. Ini adalah sesuatu yang sering diabaikan oleh HI
'tradisional', karena teori positivis membuat perbedaan antara 'fakta' dan
penilaian normatif, atau 'nilai'.
Pada akhir 1980-an dan 1990-an, perdebatan antara kaum positivis
dan pascapositivis menjadi perdebatan yang dominan dan telah disebut sebagai
"Perdebatan Besar" Ketiga (Lapid 1989)
Teori positivis
Realisme]
Realisme berfokus
pada keamanan dan kekuasaan negara di atas segalanya. Para penganut pertama
seperti E.H. Carr dan Hans Morgenthau berpendapat bahwa negara
adalah aktor rasional yang egois dan mengejar kekuasaan, yang berusaha memaksimalkan
keamanan dan kemungkinan keselamatan mereka. Kerja sama antarnegara adalah cara
memaksimalkan keselamatan masing-masing negara (berbeda dengan alasan yang
lebih idealis). Sama halnya, tindakan perang apapun harus didasarkan pada
kepentingan pribadi, alih-alih idealisme. Banyak realis memandang Perang Dunia II sebagai pendukung teori
mereka.
Perlu diketahui bahwa penulis klasik seperti Thucydides, Machiavelli, Hobbes dan Theodore Roosevelt,
sering disebut sebagai "bapak pendiri" realisme oleh para realis
kontemporer.[butuh
rujukan] Meski begitu, sementara karya mereka bisa
mendukung doktrin realis, kecil kemungkinannya bahwa mereka telah
mengelompokkan diri sebagai realis (dalam artian ini). Para realis biasanya
terpisah menjadi dua kelompok: Klasik atau Realis Sifat Alami Manusia (seperti
yang dijelaskan di sini) dan Struktural atau Neorealis (di bawah).
Realisme politik yakin bahwa politik, seperti masyarakat pada
umumnya, dipimpin oleh hukum objektif yang berasal dari sifat alami manusia.
Untuk memperbaiki masyarakat, pertama mereka perlu memahami hukum yang menjadi
acuan hidup masyarakat. Pelaksanaan hukum-hukum tersebut tidak berubah dengan
pilihan kita, masyarakat akan menantangnya jika muncul risiko kegagalan.
Realisme, yang juga percaya terhadap objektivitas hukum politik,
juga harus percaya terhadap kemungkinan mengembankan sebuah teori rasional yang
merfleksikan hukum-hukum objektif ini sekalipun tidak sempurna dan memihak.
Realisme juga percaya pada kemungkinan pemisahan dalam politik antara fakta dan
pendapat-antara apa yang benar secara objektif dan rasional, diperkuat oleh
bukti dan dicerahkan oleh alasan, dan apa yang berupa penilaian subjektif,
dipisahkan dari fakta sebagaimana adanya dan diinformasikan oleh pemikiran yang
buruk sangka dan penuh harapan.
Penempatan realisme di bawah positivisme jauh dari keadaan tanpa
masalah. What is History karya E.H. Carr merupakan kritik
pribadi terhadap positivisme, dan tujuan Hans Morgenthau dalam Scientific
Man vs Power Politics, sebagaimana judulnya, adalah menghapus semua
pendapat bahwa politik internasional/politik kekuasaan dapat dipelajari secara
ilmiah.
Liberalisme/idealisme/Internasionalisme liberal
Teori hubungan internasional liberal muncul
setelah Perang Dunia I sebagai respon atas ketidakmampuan negara-negara untuk
mengendalikan dan membatasi perang dalam hubungan internasional mereka. Para
penganut pertamanya meliputi Woodrow Wilson dan Norman Angell, yang berpendapat keras bahwa
negara dapat makmur melalui kerja sama dan bahwa perang bersifat sangat
destruktif serta sia-sia.
Liberalisme belum diakui sebagai sebuah teori yang koheren
sampai akhirnya secara kolektif dan mengejek disebut idealisme oleh E. H. Carr.
Sebuah versi baru "idealisme" yang berfokus pada hak asasi manusia sebagai dasar
legitimasi hukum internasional dikemukakan oleh Hans
Köchler.
Neoliberalisme
Neoliberalisme mencoba
memperbarui liberalisme dengan menerima anggapan neorealis bahwa negara adalah
aktor utama dalam hubungan internasional, namun masih mengakui pentingnya aktor
non-negara dan organisasi
antarpemerintah (IGO). Pendukung seperti Maria
Chattha berpendapat bahwa negara-negara akan saling bekerja
sama tanpa memandang hasil relatifnya, dan lebih melihat hasil absolutnya. Ini
juga berarti bahwa bangsa-bangsa, pada dasarnya, bebas membuat pilihan mereka
sendiri tentang bagaimana mereka menjalankan kebijakan tanpa adanya organisasi
internasional yang menghalang-halangi hak sebuah bangsa untuk berdaulat.
Neoliberalisme juga memiliki teori ekonomi yang didasarkan pada
pemanfaatan pasar terbuka dan bebas dengan sedikit intervensi pemerintah, jika
ada, untuk mencegah munculnya monopoli dan konglomerat lain. Saling
ketergantungan yang muncul sepanjang dan setelah Perang Dingin melalui
institusi internasional mendorong penetapan neo-liberalisme sebagai institusionalisme;
bagian baru dari teori ini didukung oleh Robert Keohane dan Joseph Nye.
Teori rezim
Teori rezim berasal
dari tradisi liberal yang berpendapat bahwa institusi atau rezim internasional
mempengaruhi kelakuan negara-negara (atau aktor internasional lainnya). Teori
ini berasumsi bahwa kerja sama dapat dilaksanakan pada sistem negara yang
anarkis. Memang, dilihat dari definisinya, rezim merupakan contoh kerja sama
internasional.
Sementara realisme memperkirakan
bahwa konflik harus menjadi norma dalam hubungan internasional, teoriwan rezim
mengatakan bahwa terjadi kerja sama meski bersifat anarki. Mereka sering
merujuk pada kerja sama perdagangan, hak asasi manusia dan keamanan kolektif.
Contoh kerja sama ini adalah rezim. Definisi rezim yang sering dikutip berasal
dari Stephen Krasner.
Krasner mendefinisikan rezim sebagai "institusi yang memiliki norma,
aturan keputusan, dan prosedur yang memfasilitasi konvergensi harapan."[kutipan
ini butuh rujukan]
Tidak semua pendekatan terhadap teori rezim bersifat liberal
atau neoliberal; sejumlah sarjana realis seperti
Joseph Greico telah mengembangan teori hibrid yang mengambil pendekatan
berbasis realis terhadap teori ini yang pada dasarnya liberal. Para realis
tidak berkata kerja sama tidak pernah terjadi, namun karena
itu bukanlah normanya; kerja sama adalah perbedaan derajat).
Teori pascapositivis/reflektivis
Teori masyarakat internasional (aliran Inggris)
Teori masyarakat internasional, juga
disebut Aliran Inggris, berfokus pada norma dan nilai bersama
negara-negara dan bagaimana mereka mengatur hubungan internasional.
Contoh-conton norma tersebut adalah diplomasi, ketertiban, dan hukum
internasional. Tidak seperti neo-realisme, teori ini tidak
positivis. Para teoriwan lebih memperhatikan intervensi kemanusiaan, dan
terbagi antara solidaris, yang lebih mendukung intervensi, dan pluralis, yang
mendukung ketertiban dan kedaulatan. Nicholas Wheeler adalah solidaris
terkenal, sementara Hedley Bull dan
Robert H. Jackson adalah pluralis terkenal.
Konstruktivisme sosial
Konstruktivisme
sosial mencakup serangkaian teori yang bertujuan menjawab
pertanyaan-pertanyaan ontologi, seperti
perdebatan struktur
dan lembaga, serta pertanyaan epistemologi, seperti perdebatan
"material/ideasional" yang memperhatikan peran relatif kekuatan
material versus ide. Konstruktivisme bukan merupakan teori HI dalam artian
neo-realisme, tetapi sebuah teori
sosialyang lebih bagus dipakai untuk menjelaskan tindakan-tindakan
yang diambil oleh negara dan aktor-aktor besar lain, serta identitas yang
memandu negara dan aktor-aktor ini.
Konstruktivisme
dalam HI dapat dibagi menjadi sesuatu yang Hopf (1998) sebut
konstruktivisme 'konvensional' dan 'kritis'. Hal yang umum terhadap segala
jenis konstruktivisme adalah kepentingan terhadap peran yang dimainkan
kekuatan-kekuatan ideasional. Sarjana konstruktivis ternama, Alexander Wendt, menulis dalam artikelnya
di International
Organization tahun 1992 (yang diikuti oleh buku Social
Theory of International Politics (1999)) bahwa "anarki adalah
sesuatu yang dihasilkan negara". Dengan ini, ia berusaha mengatakan bahwa
struktur anarkis yang diklaim para neo-realis mengatur interaksi negara
faktanya merupakan suatu fenomena yang dibangun secara sosial dan direproduksi
oleh negara.
Misalnya, jika sistem ini didominasi oleh negara-negara yang
melihat anarki sebagai situasi hidup atau mati (yang disebut Wendt sebagai
anarki "Hobbesian"), sistem tersebut akan ditandai dengan peperangan.
Di sisi lain, jika anarki dilihat sebagai sesuatu yang membatasi (anarki
"Lockean"), sistem yang lebih damai akan tercipta. Anarki dalam
pandangan ini dibentuk oleh interaksi negara, alih-alih diterima sebagai fitur
kehidupan internasional yang alami dan kekal sebagaimana dikatakan para
teoriwan HI neo-realis.
Teori kritis
Teori
hubungan internasional kritis adalah penerapan 'teori kritis' terhadap hubungan internasional.
Para pendukungnya seperti Andrew Linklater, Robert
W. Cox dan Ken
Booth berfokus pada perlunya emansipasi manusia
dari negara. Karena itu, teori ini "kritis" terhadap teori HI arus
utama yang bersifat negara-sentris.
Marxisme
Teori Marxis dan
Neo-Marxis HI menolak pandangan realis/liberal terhadap konflik atau kerja sama
negara; mereka berfokus pada aspek ekonomi dan material. Ini menciptakan asumsi
bahwa ekonomi mengalahkan masalah lainnya, sehingga memungkinkan peningkatan
kelas menjadi fokus studi. Para Marxis memandang sistem internasional sebagai
satu sistem kapitalis terpadu yang terus menambah modal. Jadi, masa
kolonialisme membawa sumber bahan baku dan pasar terkurung untuk ekspor,
sementara dekolonialisasi membawa kesempatan baru dalam bentuk ketergantungan.
Teori yang terhubung dengan Marxis adalah teori ketergantungan yang
berpendapat bahwa negara-negara maju, dalam mencapai kekuasaannya, menyusup ke
negara-negara berkembang melalui penasihat politik, misionaris, para ahli, dan
MNC untuk mengintegrasikan mereka ke sistem kapitalis demi mendapatkan sumber
daya alam yang cukup dan mendorong ketergantungan.
Teoriwan Marxis kurang mendapat perhatian di Amerika Serikat,
karena negara tersebut tidak memiliki partai sosialis besar. Teori ini lebih
mencuat di sebagian wilayah Eropa dan merupakan salah satu kontribusi teori
terpenting di kalangan akademisi Amerika Latin, misalnya melalui teologi pembebasan.
Teori kepemimpinan
Sudut pandang kelompok kepentingan
Teori kelompok kepentingan mengatakan bahwa pendorong perilaku
negara adalah kelompok kepentingan subnegara. Contoh-contoh kelompok
kepentingan adalah pelobi politik, militer, dan perusahaan. Teori kelompok
berpendapat bahwa meski kelompok-kelompok kepentingan ini konstitutif terhadap
negara, mereka juga merupakan tenaga pendorong pelaksanaan kekuasaan negara.
Sudut pandang strategis
Sudut pandang strategis adalah pendekatan teoretis yang
memandang individu memilih tindakan mereka dengan mempertimbangkan tindakan
yang diantisipasi dan respon individu lain dengan tujuan memaksimalkan
kesejahteraan mereka.
Model keyakinan buruk tersirat
"Model
keyakinan buruk tersirat" dalam pemrosesan informasi adalah
teori psikologi politik yang pertama kali dikemukakan Holsti untuk menjelaskan
hubungan antara keyakinan John Foster Dulles dan
model pemrosesan informasinya.[5] Model ini merupakan model
saingan yang paling banyak dipelajari.[6] Sebuah negara dianggap sebagai
musuh, dan segala indikator yang menyatakan sebaliknya justru tidak diakui.
Indikator-indikator ini dianggap sebagai propaganda atau tanda kelemahan.
Contohnya adalah sikap John Foster Dulles terhadap Uni Soviet, atau sikap awal
Israel terhadap Organisasi
Pembebasan Palestina.[7]
Teori pascastrukturalis
Teori pascastrukturalis HI berkembang pada tahun 1980-an dari
studi pascamodernis dalam ilmu politik. Pascastrukturalisme mempelajari
dekonstruksi konsep-konsep yang secara tradisional tidak problematis dalam HI,
seperti 'kekuasaan' dan 'lembaga' dan menguji bagaimana pembuatan konsep-konsep
ini membentuk hubungan internasional. Pengujian 'narasi' memainkan peran
penting dalam analisis pascastrukturalis, misalnya karya pascastrukturalis
feminis telah menguji peran bahwa 'wanita' turut berpartisipasi dalam
masyarakat global dan bagaimana mereka dibangun dalam perang sebagai sosok
'tidak bersalah' dan 'warga sipil'.
Contoh-contoh penelitian pascapositivis meliputi:
·
Feminisme (perang
"gender")
·
Pascakolonialisme (menantang
sifat eurosentrisme HI)
·
Pascarealisme (berfokus
pada teori HI sebagai retorika ilmiah dan politik)
Konjungtur
Dalam pembuatan keputusan hubungan internasional, konsep konjungtur, bersama kebebasan bertindak dan
kesetaraan, adalah elemen penting. Para pembuat keputusan perlu
mempertimbangkan rangkaian kondisi internasional dalam mengambil inisiatif yang
akan menghasilkan berbagai jenis respon.
Konsep level sistemik
Hubungan internasional sering dipandang dalam hal level
analisis. Konsep level sistemik adalah konsep-konsep luas
yang menetapkan dan membentuk suatu lingkungan internasional yang ditandai
dengan anarki.
Kekuatan]
Negara
biru sangat gelap sering dianggap kekuatan super, negara biru gelap kekuatan besar, negara biru pucat kekuatan menengah, dan negara biru sangat
pucat juga kadang dianggap kekuatan menengah.[8]
Konsep kekuatan dapat
dideskripsikan sebagai tingkat sumber daya, kemampuan, dan pengaruh dalam
masalah internasional. Konsep ini sering dibagi menjadi konsep kekuatan
keras dan kekuatan
lunak; kekuatan keras berkaitan dengan kekuatan koersif, seperti
pemakaian kekuatan, dan kekuatan lunak yang biasanya mencakup pengaruh ekonomi, diplomasi, dan budaya. Meski begitu, tidak ada garis pemisah
yang jelas antara kedua bentuk kekuatan tersebut.
Polaritas
Polaritas dalam
hubungan internasional merujuk pada pengaturan kekuatan di dalam sistem
internasional. Konsep ini muncul dari bipolaritas pada Perang Dingin, dengan sistem internasionalnya
didominasi oleh konflik antara dua kekuatan super, dan telah diterapkan secara
retrospektif oleh para teoriwan. Tetapi, istilah bipolar sering digunakan oleh
Stalin yang mengatakan bahwa ia memandang sistem internasional sebagai sistem
bipolar dengan dua basis kekuatan dan ideologi yang saling bertentangan.
Akibatnya, sistem internasional sebelum 1945 bisa disebut multi-polar,
dengan kekuatan terbagi-bagi antara kekuatan besar.
Imperium
dunia pada tahun 1910.
Kejatuhan Uni Soviet tahun
1991 telah mendorong munculnya unipolaritas, dengan Amerika Serikat sebagai kekuatan super
tunggal. Tetapi, karena pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang
cepat (pada tahun 2010, Cina menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia), ditambah
posisi internasional yang patut diperhitungkan di dunia politik serta kekuasaan
yang dimiliki pemerintah Cina terhadap rakyatnya (populasi terbesar di dunia),
muncul perdebatan apakah Cina sekarang merupakan kekuatan super atau kandidat
potensial pada masa depan.
Sejumlah teori hubungan internasional berasal dari ide polaritas:
Keseimbangan kekuatan adalah
konsep yang menonjol di Eropa sebelum Perang Dunia I, pemikiran bahwa dengan
menyeimbangkan blok-blok kekuatan, mereka dapat menciptakan stabilitas dan
mencegah perang. Teori keseimbangan kekuatan mendapat perhatian lagi
selama Perang Dingin dan
menjadi mekanisme utama dalam Neorealisme Kenneth Waltz. Di sini, konsep menyeimbangkan
(berkuasa untuk melawan lainnya) dan menempel (berpihak pada lainnya)
dikembangkan.
Teori kestabilan
hegemon (dikembangkan oleh Robert Gilpin) juga berasal dari ide
Polaritas, terutama keadaan unipolaritas. Hegemoni adalah pembesaran kekuatan di
satu kutub sistem internasional, dan teori ini berpendapat bahwa ini merupakan
konfigurasi yang stabil dikarenakan manfaat bersama dari kedua kekuatan yang
dominan dan kekuatan lain di sistem internasional. Hal ini bertentangan dengan
argumen Neorealis, terutama Kenneth Waltz, yang menyatakan bahwa
akhir Perang Dingin dan
keadaan unipolaritas merupakan konfigurasi yang tidak stabil dan kelak akan
berubah.
Pernyataan tersebut dapat dijelaskan dalam teori peralihan kekuatan, yang menyatakan
bahwa sebuah kekuatan besar tidak
mungkin menantang sebuah hegemoni setelah periode tertentu, sehingga
menghasilkan perang besar. Teori ini menyatakan bahwa meski hegemoni dapat
mengendalikan munculnya perang, mereka juga menciptakan perang. Pendukung
utamanya, A.F.K. Organski,
berpendapat bahwa hal ini didasarkan pada terjadinya perang-perang sebelumnya
antara hegemoni Britania, Portugal, dan Belanda.
Saling ketergantungan
Banyak ahli menyatakan bahwa sistem internasional saat ini
ditandai dengan tumbuhnya saling ketergantungan; pertanggungjawaban dan
ketergantungan bersama satu sama lain. Para pendukung merujuk pada globalisasi yang semakin tumbuh, terutama
dengan interaksi ekonomi internasional. Peran institusi internasional, dan
penerimaan sejumlah prinsip operasi dalam sistem internasional, memperkuat ide
bahwa hubungan ditandai oleh saling ketergantungan.
Ketergantungan
Teori ketergantungan adalah
teori yang sering dikaitkan dengan Marxisme, menyatakan bahwa sejumlah
negara Inti mengeksploitasi beberapa negara Periferal yang
lebih lemah demi kemakmuran mereka. Berbagai versi teori ini menyatakan bahwa
hal ini bisa bersifat tidak terhindarkan (teori ketergantungan standar) atau
memakai teori tersebut untuk menekankan perlunya perubahan (Neo-Marxis).
Peralatan sistemik
·
Diplomasi adalah praktik
komunikasi dan negosiasi antara sejumlah perwakilan negara.
Sampai batas tertentu, semua alat hubungan internasional lainnya dapat dianggap
sebagai kegagalan diplomasi. Pemakaian alat lain adalah bagian dari komunikasi
dan negosiasi tetap di dalam diplomasi. Sanksi, kekuatan, dan menyesuaikan
regulasi perdagangan, meski tidak dianggap bagian dari diplomasi, adalah alat
yang sebenarnya berharga demi kepentingan pengaruh dan penempatan dalam
negosiasi.
·
Sanksi biasanya
merupakan pilihan pertama setelah gagalnya diplomasi, serta salah satu alat
utama yang digunakan untuk mendorong perjanjian. Sanski bisa berupa sanksi
diplomatik atau ekonomi dan mencakup pemutusan hubungan dan pemberlakuan
batasan komunikasi atau perdagangan.
·
Perang, pemakaian kekuatan, sering
dianggap sebagai alat utama dalam hubungan internasional. Sebuah definisi yang
diterima luas oleh Clausewitz mengenai
perang adalah, "penyambungan politik dengan cara lain". Ada studi
baru yang mempelajari 'perang baru' yang melibatkan aktor, bukan negara. Studi
perang dalam hubungan internasional dicakup oleh disiplin 'Studi
perang' dan 'Studi
strategis'.
·
Pengungkitan aib internasional dapat
dianggap sebagai alat hubungan internasional. Ini adalah usaha mengubah tindakan
suatu negara melalui 'penyebutan
nama dan pengungkitan aib' di tingkat internasional. Ini biasanya
dilakukan oleh sejumlah LSM HAM besar seperti Amnesty International (terutama
ketika mereka menyebut Teluk Guantanamo sebagai "Gulag"),[9] atau Human Rights Watch. Alat
ini sering dipakai oleh prosedur 1235 Komisi HAM PBB, yang secara terbuka
mengekspos pelanggaran HAM di suatu negara. Dewan Hak Asasi
Manusia juga menggunakan mekanisme ini.
·
Pembagian keuntungan ekonomi dan/atau diplomatik.
Contohnya adalah kebijakan perluasan Uni Eropa. Negara-negara kandidat diizinkan
masuk UE hanya jika memenuhi kriteria Kopenhagen.
Konsep level unit
Sebagai suatu level analisis, level unit sering
disebut sebagai level negara, karena level ini menempatkan penjelasannya di
tingkat nevara, alih-alih sistem internasional.
Tipe rezim
Sering dianggap bahwa bentuk pemerintahan suatu negara dapat
menentukan cara negara tersebut berinteraksi dengan negara lain dalam sistem
internasional.
Teori Perdamaian Demokratis adalah
teori yang mengemukakan bahwa sifat demokrasi berarti bahwa negara-negara
demokrasi tidak akan berperang satu sama lain. Pembenaran untuk hal ini adalah
bahwa negara demokrasi menyampingkan norma mereka dan hanya berperang dengan
alasan yang pasti, dan bahwa demokrasi mendorong kepercayaan dan penghargaan terhadap
satu sama lain.
Komunisme mendukung
revolusi dunia, yang akan menimbulkan kehidupan berdampingan yang damai
berdasarkan masyarakat global yang proletar.
Revisionisme/Status quo
Negara dapat dikelompokkan menurut apakah mereka menerima status
quo internasional, atau bersifat revisionis, yaitu menginginkan perubahan.
Negara revisionis berusaha mengubah aturan dan praktik hubungan internasional
secara dasar, merasa tidak diuntungkan oleh status quo. Mereka melihat sistem
internasional sebagai suatu bentukan dunia barat yang mengukuhkan realitas yang
ada. Jepang adalah contoh negara yang beralih
dari negara revisionis ke negara yang puas dengan status quo, karena status quo
kini menguntungkan mereka.
Agama
Sering muncul anggapan bahwa agama dapat
mempengaruhi cara negara bertindak di dalam sistem internasional. Agama
terlihat sebagai suatu prinsip pengorganisasi, terutama pada negara-negara
Islam, sementara sekularisme ada di ujung lain spektrum dengan pemisahan negara
dan agama menjadi dasar teori hubungan internasional liberal.
Konsep individu atau level subunit
Level di bawah unit (negara) bisa bermanfaat untuk menjelaskan
faktor-faktor dalam Hubungan Internasional yang tidak dapat dijelaskan oleh
teori-teori lain, dan untuk menjauhi pandangan hubungan internasional yang
negara-sentris.
·
Faktor psikologis dalam Hubungan
Internasional - Penilaian faktor psikologis dalam hubungan internasional
berasal dari pemahaman bahwa negara bukanlah sebuah 'kotak hitam' seperti yang
dikemukakan Realisme,
dan bahwa mungkin ada pengaruh-pengaruh lain terhadap keputusan kebijakan luar
negeri. Meneliti peran kepribadian dalam proses pembuatan keputusan bisa
memiliki sejumlah kekuatan
penjelas, sebagaimana halnya dengan peran mispersepsi antara
berbagai aktor. Penerapan utama dalam faktor psikologis level subunit dalam
hubungan internasional adalah konsep pemikiran
kelompok. Penerapan lainnya adalah kecenderungan para pembuat
kebijakan untuk berpikir secara analogis.
·
Politik birokrat -
Melihat peran birokrasi dalam
pembuatan keputusan, dan melihat keputusan sebagai hasil pertarungan internal
birokratik, dan dibentuk oleh berbagai kendala.
·
Kelompok keagamaan, etnis, dan separatis -
Melihat aspek-aspek level subunit ini memiliki kekuatan penjelas yang berkaitan
dengan konflik etnis, perang agama, diaspora transnasional (politik
diaspora) dan aktor lain yang tidak menganggap dirinya pas dengan
batas negara yang sudah ditetapkan. Ini berguna dalam konteks dunia negara
lemah pra-modern.
·
Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Hubungan
Internasional - Bagaimana iptek mempengaruhi kesehatan, bisnis,
lingkungan, teknologi, dan pembangunan global.
·
Kulturologi politik internasional –
Memandang bagaimana budaya dan variabel budaya memengaruhi hubungan
internasional.
Institusi
Gedung
Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa di Markas
Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York City.
Kantor
pusat Bank Dunia di Washington, D.C.
Institusi internasional membentuk bagian penting dalam Hubungan
Internasional kontemporer. Sebagian besar interaksi pada tingkat sistem diatur
oleh mereka, dan mereka menyingkirkan sejumlah institusi dan praktik Hubungan
Internasional tradisional, seperti pelaksanaan perang (kecuali demi mempertahankan
diri).
Ketika manusia memasuki fase peradaban keplanetan, sejumlah ilmuwan
dan teoriwan politik[siapa?] melihat
sebuah hierarki institusi global yang menggantikan sistem negara-bangsa
berdaulat yang sudah ada sebagai komunitas politik utama. Mereka berpendapat
bahwa bangsa adalah suatu komunitas
khayalan yang tidak mampu menangani tantangan-tantangan global
seperti efek "Dogville"
(orang asing di dalam komunitas homogen), status hukum dan politik masyarakat
dan pengungsi tanpa negara, dan perlunya mengingatkan dunia tentang
masalah-masalah seperti perubahan iklim dan wabah.
Futuris Paul Raskin membuat
hipotesis bahwa bentuk politik global yang baru dan lebih sah
dapat didasarkan pada "pluralisme yang dibatasi". Prinsip ini
mendorong pembentukan institusi berdasarkan tiga karakteristik: iredusibilitas, ketika sejumlah isu harus
diputuskan pada tingkat global, subsidiaritas,
yang membatasi cakupan otoritas global terhadap isu-isu yang memang bersifat
global, sementara isu-isu pada cakupan yang lebih kecil diatur pada tingkatan
yang lebih rendah; dan heterogeneitas,
yang memungkinkan pendirian berbagai bentuk institusi lokal dan regional selama
mereka memenuhi kewajiban global.
Organisasi antarnegara umum
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) adalah sebuah organisasi
internasional yang mendeskripsikan dirinya sebagai
"asosiasi pemerintahanseluruh
dunia yang memfasilitasi kerja sama dalam hukum internasional, keamanan
internasional, pembangunan ekonomi,
dan kesetaraan sosial"; PBB merupakan institusi internasional paling
terkenal. Banyak institusi hukum mengikuti struktur organisasi yang sama
seperti PBB.
OIC
Organisasi Kerja Sama
Islam (OKI) adalah sebuah organisasi
internasional yang terdiri dari 57 negara anggota. Organisasi
ini berusaha menjadi corong kolektif bagi suara dunia Muslim (umat) dan melindungi
kepentingan serta menjamin kemajuan dan kesejahteraan umat Islam.
Lainnya
·
ASEAN
·
CIS
·
G8
·
G20
Institusi ekonomi
Badan hukum internasional
Hak asasi manusia
Hukum
Organisasi keamanan regional
·
CSCAP
·
GUAM
·
NATO
·
SCO
·
SAARC
·
UNASUR
Unsplash/HelenaLopes
indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au
6 Hal Ini Wajib Dilakukan Mahasiswa Baru Hubungan Internasional
Siapkan bekal sejak awal, biar lekas sukses!
Unsplash/HelenaLopes
Bagi mahasiswa, tahun pertama dalam perkuliahan dianggap sebagai tahun percobaan. Di mana pada tahun pertama, mahasiswa baru yang notabenenya baru lulusan SMA belum mengetahui seperti apa sistem perkuliahan. Kinerja belajar seorang mahasiswa juga berbeda dengan murid SMA. Tentu ini memerlukan proses dalam bertransformasi.
Dikarenakan hal tersebut, banyak mahasiswa yang membuang kualitasnya di tahun pertama karena mereka masih canggung untuk menjadi seorang “maha”. Tak terkecuali mahasiswa hubungan internasional sebagai jurusan sosial. Kali ini akan membahas 6 hal penting mengenai hubungan internasional.
1. Perbanyak bacaan, karena cakupan jurusanmu sangat luas
Setiap mata kuliah pasti memilii teori tersendiri yang dipelajari dan menjadi dasar. Berbeda dengan ilmu pasti, hubungan internasional lebih menjurus pada kehidupan sosial yang dinamis. Walau mata kuliah ini memiliki teori, dari situlah kita menganalisis berbagai permasalahan yang terjadi dengan pemikiran kita sendiri.
Menganalisis tidak dapat dilakukan hanya berpaku dengan teori dan penjelasan dari dosen. Mahasiswa hubungan internasional dituntut untuk lebih banyak membaca, mulai dari hasil penelitian sosial, analisa dari para ahli terhadap dinamika masyarakat dunia dan berita permasalahan intenasional.
Tak hanya itu, membaca hal yang bukan dari jurusanmu juga menambah kemampuanmu dalam menilai suatu masalah.
2. Sering berdiskusi dengan teman-teman akan menumbuhkan sifat kritismu
Karena objek dari hubungan internasional adalah masyarakat internasional yang selalu berubah-ubah, mahasiswa hubungan internasioanl dituntut untuk lebih peka terhadap berbagai pembaruan dan perubahan di sekitarnya atau pun di wilayah yang jauh darinya.
Melalui diskusi, kamu akan dapat mendengar pendapat dan pandangan teman-temanmu tentang suatu masalah. Kamu juga dapat membanding-bandingkan pemikiranmu dengan yang lain dan kamu dapat melihat kekurangan dari perspektif dari setiap individu, sehingga kamu menemukan suatu solusi yang lebih baik.
3. Jangan hanya terpaku pada teman di lingkunganmu, luaskan relasi pertemanan dari tempat yang berbeda
Hubungan internasional tidak hanya terpaku pada kontroversi di dunia internasional. Mereka juga fokus terhadap keberagaman budaya sebagain jalan aman untuk menghasilkan persatuan dan perdamaian.
Berteman dengan kebudayaan yang berbeda, bisa meluaskan cara pandangmu dan kalian bisa saling bertukar pengalaman dan permasalahan yang dihadapi masing-masing daerah.
4. Update tentang permasalahan dunia dan lokal
Belum di katakan anak hubungan internasional jika mereka tidak mengikuti alur permasalahan di negaranya maupun luar negeri. Karena memang itulah makanan pokok dari pelajaran hubungan internasional. Kamu tidak akan bisa menerapkan teori-teori perdamaian dan politik jika kamu sendiri malas untuk sensitif terhadap perubahan.
5. Bukan hanya tentang teori, kamu harus bisa melontarkan opini dengan jujur
Hasil dari mata kuliah hubungan internasional adalah solusi untuk perdamaian dunia, kamu tidak akan bisa sukses menjadi mahasiswa hubungan internasional jika melontarkan solusi dari sebuah permasalahan hanya untuk kepentingan diri sendiri ataupun golongan dirimu.
Kamu harus jujur dalam menilai dan beropini tanpa adanya maksud tersembunyi dari argumenmu sendiri. Karena ini menyangkut kehidupan masyarakat secara luas dan kamu dipercaya untuk bisa mencari jalan tengah dengan teori hubungan internasional yang kamu miliki.
6. Hubungan internasional bukanlah jurusan berdebat dan diskusi saja, di sini kamu harus bisa menciptakan perdamaian dari berbagai kesulitan yang dihadapi masyarakat internasional
Tidak bisa di katakan mahasiswa hubungan internasional jika kamu hanya berbicara tanpa aksi, bukan berarti juga kamu harus turut dalam konferensi besar. Menjadi relawan dalam bencana alam, pendidik di sekolah terpencil dan aktivis sosial bagi daerah dalam status siaga perang cukup untuk membuatmu berharaga sebagai mahasiswa hubungan internasional.
Dengan mengetahui 6 hal di atas, kamu dapat memaksimalkan dirimu untuk berkontribusi dalam dunia hubungan internasional dan menciptakan perdamaian. Selain itu ilmumu juga diharapkan untuk mengurangi permusuhan di Indonesia.
Maka jangan pernah membuang tahun pertamamu dan menganggapnya enteng, karena setiap waktu di bangku perkuliahan adalah harapan bagi dunia untuk sebuah perubahan
Berikut ini beberapa daya pikat dari jurusan HI.
1. Bisa belajar fenomena dan isu internasional
Setiap kali buka portal berita, saya langsung klik berita mancanegara. Karena berita isu dan fenomena internasional sangat menarik untuk dibaca dan diobservasi. Dengan mengambil jurusan HI, kamu bisa bergumul dengan tema-tema seperti ini sepanjang waktu!
Saat kuliah, kamu akan diajak menganalisa isu dan fenomena internasional, memahami hingga dan menjelaskannya secara rasional dan rinci. Agar makin matang, kamu harus mengikuti beberapa kuliah teori. Seperti Kebijakan Luar Negeri Indonesia, Analisa Politik Luar Negeri, hingga Teori Ekonomi Politik Internasional. Menarik banget nggak, sih? Serunya lagi, kamu bisa belajar dinamika kawasan dari Asia hingga Eropa!
2. Menguasai minimal satu bahasa asing
Kalau ingin mempelajari isu internasional, sudah pasti dibutuhkan kemampuan bahasa asing, dong. Minimal, kamu bisa menguasai bahasa Inggris. Standar ini bisa dibilang cukup rendah, karena selain bahasa ibu, umumnya anak HI bisa lebih dari satu bahasa asing semisal bahasa Mandarin, Arab, atau Spanyol.
Sebenarnya nggak ada keharusan dalam penguasaan bahasa asing. Namun, ada baiknya kalau kamu bisa menguasai bahasa asing agar bisa mempelajarinya dengan baik. Keterbatasan bahasa asing di awal kuliah nggak jadi soal, kok. Kamu bisa mengasah bahasa asingmu selama proses kuliah.
3. Kesempatan berkarier yang baik
Asyiknya lulusan HI adalah banyaknya pilihan karier yang bisa dicoba. Pertama, tentu saja kamu bisa menjadi konsultan atau duta besar Indonesia di negara luar. Saat menjadi perwakilan Indonesia, kamu bertugas mengurus perihal diplomasi negara Indonesia di negara yang ditunjuk.
Tak hanya itu, kamu juga bisa bekerja sebagai staf kedutaan, wartawan, dosen, hingga peneliti. Cukup banyak bidang pekerjaan yang bisa kamu pilih. Jadi, nggak melulu jadi duta besar saja.
4. Bonus jalan-jalan
Risiko sekaligus berkah menjadi staf luar negeri adalah kamu bisa dapat bonus jalan-jalan! Karena ditugaskan di negeri orang, kamu bisa sekaligus travelling di negara tempat kamu ditugaskan. Ini dia salah satu daya pikat dari pekerjaan anak-anak lulusan HI.
5 Skill Istimewa yang Wajib Dikembangkan Mahasiswa Hubungan Internasional
indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au
Dari sekian banyak jurusan yang ada, bisa dibilang jurusan hubungan internasional adalah salah satu jurusan ‘paling laku’ dan bergengsi di Indonesia.
Alasannya, tentu, karena prospek pekerjaannya yang emang menggiurkan, terlebih bagi orang yang seneng banget politik dan dunia internasional. Duta Besar, diplomat, kerja di organisasi internasional adalah prospek karir utama yang dijembatani oleh jurusan ini.
Tapi, sejalan dengan prospeknya yang super kece itu, jelas tidaklah mudah untuk mencapainya dan butuh skill ‘ekstra’ yang bisa menunjang cita-cita karir kamu.
Maka dari itu, untuk kalian para anak HI, khususnya yang baru masuk HI, wajib tahu skill apa aja yang wajib dikembangkan untuk meraih prospek masa depan yang HI banget ini.
1. Menguasai bahasa asing lebih dari satu
Judulnya aja udah ‘internasional’, so pasti kemampuan bahasa asing jadi salah satu skill yang penting banget dimiliki oleh anak HI. Bahkan, bahasa Inggris itu merupakan ‘bahasa standar utama’ di HI.
Kalau kamu bisa menguasai bahasa asing lain, itu bakal jadi nilai plus banget buat kamu. Apalagi bagi kamu yang pengen banget jadi Duta Besar atau Diplomat, kamu harus bisa menguasai lebih dari 1 bahasa.
Untuk mengasah skill ini, kamu bisa ikut les bahasa yang saat ini bisa kita temui dengan mudah, meskipun kita harus mengeluarkan biaya, tapi biasanya ada fasilitas sertifikat yang bisa jadi bukti konkrit bahwa kamu emang punya keahlian di suatu bahasa.
Sedangkan bagi kamu yang mau lebih berhemat, jangan khawatir, saat ini banyak situs atau aplikasi belajar bahasa online gratis, kok!
2. Mampu berpikir kritis
Pada umumnya, semua mahasiswa dengan apapun jurusannya emang harus bisa berpikir kritis, bahkan itulah yang membedakan antara saat menjadi siswa dan mahasiswa. Tapi, gak semua jurusan membutuhkan skill berpikir kritis Sebaliknya, di jurusan HI, skill ini penting banget dikembangkan.
Dengan setumpuk isu yang terjadi di dunia dan berita yang tersebar di mana-mana, kamu dituntut untuk bersikap kritis dalam menanggapi mana berita yang benar dan juga yang salah, alias gak gampang percaya.
Di dunia HI sendiri, sering terdengar istilah 'propaganda' dan 'konspirasi' yang mana anak HI dibiasakan dengan mindset 'penuh curiga'. Dalam beberapa study case, gak sedikit pemain-pemain politik dunia juga memainkan peran ini demi tercapainya kepentingan mereka.
Skill berpikir kritis ini akan semakin terasah dengan semakin banyaknya wawasan yang kamu miliki juga ikutlah dalam forum-forum diskusi dan debat.
3. Daya analisis yang tajam
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa itu bisa terjadi? Bagaimana dampak yang ditimbulkannya? Bagaimana mencegah / menyelesaikannya?
Selain dibiasakan untuk berpikir kritis, anak HI yang emang hari-harinya selalu dipenuhi dengan jurnal dan makalah ini juga dituntut untuk bisa menganalisis isu-isu yang terjadi di kancah internasional.
Karena itulah, anak HI juga harus up to date sama perkembangan berita yang ada, supaya kamu bisa tahu keterkaitan antara satu berita dengan berita yang lainnya.
Dalam menajamkan kemampuan berpikir analisis ini, yang terpenting adalah kamu bisa mengumpulkan fakta-fakta yang ada, memahami keterkaitan satu fakta dengan yang lainnya dan berusaha sebisa mungkin memecahkannya.
4. Jiwa leadership yang mumpuni
Bisa memengaruhi orang lain dan memberikan suatu decision-making yang baik adalah indikator kepemimpinan yang harus dimiliki oleh anak HI. Sebagaimana kita tahu, HI begitu identik dengan politik, politik identik dengan kekuasaan, dan kekuasaan berarti juga kepemimpinan.
Dalam lingkup nyata HI, sebuah pembuatan keputusan oleh seorang pemimpin atau representasi negara akan memengaruhi posisi suatu negara di mata dunia, karena tentu suatu kebijakan yang dibuat akan berimplikasi pada negaranya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Nah, untuk memupuk jiwa leadership kamu, cobalah jadi bagian dari organisasi. Lebih-lebih kalau kamu jadi ketua. Dengan segala tangung jawab dan presssure yang tertuju padamu, kamu jadi terpacu untuk berkembang dan berusaha tetap menjadi 'panutan' yang baik untuk anggotamu.
Dan tentu ketika ada masalah, kamu harus bisa membuat keputusan sebaik dan sebijak mungkin agar tidak merugikan organisasimu juga mengedepankan kepentingan yang ada di dalamnya.
5. Lihai berdiplomasi dan bernegosiasi
Nah, skill yang satu ini emang HI banget, ya. Yup, dalam konteks HI, kemampuan berdiplomasi dan bernegosiasi adalah keterampilan dalam mengelola hubungan antarnegara demi mencapai kepentingan nasional.
Diplomasi bukan hanya sekedar bisa berkomunikasi dengan baik, namun yang terpenting adalah bisa mempertahankan kepentingan negara yang bersangkutan. Maka dari itu, setiap anak HI pasti diajarkan tentang teknik berdiplomasi.
Untuk memperdalam skill ini, kamu bisa ikutan Model United Nations Club, yang mana kamu bisa belajar menjadi layaknya seorang diplomat sungguhan karena MUN adalah simulasi sidang PBB.
Selain itu, coba juga deh ikutan kompetisinya. Enggak cuman melatih skill diplomasi kamu, tapi kamu juga akan menambah relasi dari berbagai macam kampus, lho. Wah, seru!
Jadi anak HI itu emang penuh tantangan, ya, karena cakupan pembelajarannya yang begitu luas. Kamu dituntut untuk bisa ini dan bisa itu. Tapi percaya deh, bahwa yang terpenting adalah tekun untuk melatih diri kamu sendiri. Terlebih, skill ini gak hanya berguna di dunia HI kamu, tapi juga di kehidupan sehari-hari.
Ada beberapa pilihan kampus yang ada jrusan Hubungan Internasionalnya, dan semua ini bisa jadi bahan pertimbangan buat kalian memutuskan kampus mana yang bakal menjadi ruang belajar kalian? Check this out !
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Bandung
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Surabaya
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, Makassar
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Andalas
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Al-Azhar Indonesia
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Surabaya
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Nasional
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina
Jurusan Hubungan Internasional Institut Ilmu Sosial Politik (IISIP)
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya
Jurusan Hubungan Internasional Universitas Budi Luhur
8 Universitas negeri terbaik di Indonesia jurusan Hubungan Internasional
Nama jurusan PTN-Universitas Negeri Terbaik Jurusan Hubungan Internasional Akreditasi jurusan
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga-Unair, Surabaya A/2011-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada-UGM, Yogyakarta A/2014-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia-UI, Jakarta A/2014-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Jember-Unej A/2013-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran-Unpad, Bandung A/2011-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Riau-Unri, Pekanbaru A/2013-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta A/2011-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-IISIP Jakarta A/2013-ban-pt
Nama jurusan PTN-Universitas Negeri Terbaik Jurusan Hubungan Internasional Akreditasi jurusan
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga-Unair, Surabaya A/2011-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada-UGM, Yogyakarta A/2014-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia-UI, Jakarta A/2014-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Jember-Unej A/2013-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran-Unpad, Bandung A/2011-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Riau-Unri, Pekanbaru A/2013-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta A/2011-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-IISIP Jakarta A/2013-ban-pt
7 Universitas swasta terbaik di Indonesia jurusan Hubungan Internasional
Nama jurusan PTS-Universitas Swasta Terbaik Jurusan Hubungan Internasional Akreditasi jurusan
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi A/2013-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Bandung A/2014-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang A/2013-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta A/2014-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Pasundan, Bandung A/2010-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi A/2013-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Bandung A/2014-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang A/2013-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta A/2014-ban-pt
Ilmu Hubungan Internasional Universitas Pasundan, Bandung A/2010-ban-pt
Apa itu Hubungan Internasional?
Program studi Hubungan Internasional (HI) mengetengahkan pembelajaran tentang interaksi, relasi, dan komunikasi yang terjalin secara internasional. Hubungan Internasional tidak hanya mempelajari hubungan diplomasi satu negara dengan negara yang lain, tapi juga tentang konflik, kesejahteraan, ekonomi dan perdamaian dunia. Beberapa kajian yang dipelajari dalam prodi ini adalah diplomasi dan negosiasi, politik luar negeri, perdagangan luar negeri, politik internasional, ekonomi internasional, hukum internasional, globalisasi dan banyak lagi. Disini kamu akan diasah untuk memahami berbagai isu-isu global, mengenal tokoh-tokoh dan organisasi internasional yang berpengaruh, dan kerjasama internasional. Kamu juga akan belajar dinamika kawasan berbagai negara di dunia. Hubungan Internasional merupakan salah satu prodi yang prestisius. Para mahasiswanya mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas interaksi yang melintasi batas antar negara.
Kenapa Kamu Memilih Jurusan Ini?
Jika kamu tertarik pada segala sesuatu terkait interaksi internasional, maka prodi ini bisa menjadi pilihan yang cocok untuk kamu. Prodi ini juga cocok bagi kamu yang memiliki keterampilan komunikasi serta minat yang besar untuk mendalami diplomasi dan politik internasional. Apalagi kalau kamu suka mempelajari berbagai bahasa dan kebudayaan asing, pastinya prodi Hubungan Internasional adalah pilihan yang tepat banget untukmu.
Mata Kuliah Jurusan Hubungan Internasional
- 1Organisasi Internasional
- 2Hukum Internasional
- 3Politik Luar Negeri dan Diplomasi Republik Indonesia
- 4Teori Hubungan Internasional
- 5Teori Politik Internasional
- 6Diplomasi
- 7Negosiasi dan Resolusi Konflik
- 8Minoritas dan Integrasi Nasional
- 9Ekonomi Internasional
- 10Pengantar Studi Demokrasi
- 11Globalisasi
- 12Budaya dan Bahasa Perancis
- 13Budaya dan Bahasa Mandarin
- 14Sistem Politik Amerika Serikat
- 15Sejarah Diplomasi
- 16Negosiasi dan Diplomasi
- 17Strategi dan Tatakelola Strategis
- 18Dinamika Hubungan Internasional Kawasan
- 19Studi Perang dan Damai
- 20Manajemen Strategik untuk Hubungan Internasional
- 21Pemikiran Politik Barat
- 22Teori Perbandingan Politik
- 23Masyarakat Budaya Politik Asia Tenggara
- 24Rezim Internasional
- 25Studi Hubungan Kultural Dunia
- 26Globalisasi dan Strategi
- 27Geopolitik dan Geostrategi
- 28Kosmopolitan
- 29Nasionalisme
- 30dan Fundamentalisme
- 31Masyarakat Budaya Politik Asia Timur
- 32Masyarakat Budaya Politik Amerika Latin
- 33Masyarakat Budaya Politik Rusia
- 34Eropa Timur dan Asia Tengah
- 35Strategi Kelautan dan Geopolitik Kemaritiman
- 36Etnografi Bangsa-Bangsa
- 37Agensi
- 38Kuasa
- 39dan Politik di Indonesia
Karakter Siswa Yang Sesuai
- Tekun
- Kritis
- Rasional
- Independen
- Berwawasan luas
- Senang menganalisis
- Senang melakukan riset
- Keterampilan komunikasi
- Keterampilan interpersonal
- Senang memecahkan masalah
Prospek Kerja Jurusan Hubungan Internasional
Lulusan HI tidak perlu khawatir tentang prospek kerja. Sejauh kamu berprestasi dan unggul dalam menguasai bidang ini, peluang untuk memperoleh pekerjaan di tempat-tempat prestisius yang akan menghubungkanmu dengan dunia luar, sangat terbuka lebar. Lulusan HI dapat bekerja di berbagai instnasi mulai dari Kementrian Luar Negeri sebagai diplomat atau bahkan duta besar, organisasi-organisasi internasional, perusahaan multinasional, hingga konsultan.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar